Pernikahan Anak dan Langgengnya Diskriminasi Perempuan

Posted on July 23, 2010

0


Anggapan ideal masyarakat tentang perempuan yang berhasil adalah perempuan yang menikah dan memiliki pasangan adalah fakta yang masih banyak ditemui di masyarakat sekitar kita. Hal ini terbukti dari realitas lapangan yang dituangkan dalam hasil penelitian di Rembang  oleh Koalisi Perempuan Indonesia tentang pernikahan anak., yang menggambarkan bahwa perempuan di usia 18 tahun dianggap ‘ perawan kasep ‘ alias perawan tua, dan anggapan bahwa lebih baik menjadi janda daripada jadi perawan tua masih menjadi nilai yang cukup kuat di antara mereka.

Hal tersebut didukung dengan sistem kependudukan yang masih memiliki celah untuk ‘membohongi’ umur, menyembuyikan identitas dan masalah administrasinya, yang kemudian melanggengkan praktik-praktik pernikahan anak yang menjadi salah satu sebab langgengnya diskriminasi terhadap perempuan.

Bagaimana tidak, dipaksa untuk menikah dan dirampas haknya untuk mendapat pendidikan yang layak atau menikmati keseharian menjadi seorang anak. Terlebih tentang hak kesehatan reproduksi,dimana beberapa kasus menggambarkan banyak anak  di bawah usia 18 tahun yang dipaksa untuk melakukan kewajiban sebagai seorang istri, memiliki anak dan lain sebagainya. Kondisi-kondisi seperti ini yang jarang mendapatkan perhatian bagi para pemegang kebijakan baik yang terkait dengan hukum keluarga maupun dari sisi kependudukan.

Padahal, komitmen Indonesia untuk menghilangkan diskriminasi terhadap perempuan telah dituangkan dalam undang-undang yang telah disahkan sejak tahun 1984, melalaui UU no 7 tahun 1984. Sementara di sisi lain, beberapa produk hukum seperti UU Perkawinan yang menyebutkan batas nikah laki-laki 19 tahun dan perempuan 16 tahun, sementara Undang-Undang tentang perlindungan anak menyebutkan 18 tahun sebagai usia maksimal dikategorikan anak. Ambiguitas dalam produk kebijakan hukum ini merugikan posisi perempuan di masyrakat.

Sebagai refleksi di Hari Anak, di tengah hiruk pikuk membicarakan bagaimana media hiburan dan tumbuh kembang anak, jangan lupa terhadap persoalan mendasar negeri ini yang masih belum jelas tindakan hukumnya terhadap praktik pernikahan anak.

Posted in: Informasi